0

SETELAH HUJAN ADA PELANGI

         senyum mentari pagi menyambutku dengan sinar terangnya. Aku mengucek-ngucek mataku, rasanya tubuhku terasa gontai untuk ke sekolah hari ini. Tapi apa boleh buat, sekolah sudah menjadi kewajiban bagiku. Aku meraih handuk yang tergantung di belakang pintu kamarku dan membawa ke kamar mandi.

       setengah jam aku selesai bersiap-siap, hanya perlu sedikit memoles wajahku dengan bedak tabur. Aku meraih tas sandang samping di atas meja belajar dan segara melangkar keluar kamar. “Ayah, Bunda Icha berangkat dulu ya” teriakku sebelum berangkat sekolah “ia nak” suhut Bunda diikuti sahutan Ayah. Aku mengayuh sepeda keluar dari pekarangan rumah melewati komplek-komplek  yang setiap hari biasa aku lewati. “cha bareng” teriak Adit dari depan pintu rumahnya, dengan sigap Adit mengambil sepedanya di bagasi. “kok kamu gak berhenti, gak denger ya aku bilang tungguin’ tanya Adit, “denger kok kan aku pelan ngayuh sepedanya”.”hmm, iyaa deh” jawab Adit . Aku dan Adit sudah berteman sejak enam tahun yang lalu, aku sudah menganggapnya seperti sahabat.

Adit menyamakan laju sepedanya beriringan denganku “cha gimana sama Ray” tanyanya sambil mengayuh sepeda “hmm, baik-baik aja” jawabku singkat. Aku bahkan tidak ingin membahas nama Ray saat ini, hubunganku dengan terlalu rumit dan sudah terlalu renggang. “oh ya hari ini ada pertandingan basket SMA kita sama SMA PELITA lho, itu sekolah Ray kan. kamu ikut nonton?” tanya Adit berbinar-binar. “nggak Dit, ntar sore aku ada jadwal les tambahan diluar”. “aku tau cha ada sesuatu antara kamu dan Ray, aku udah kenal kamu sejak enam tahun yang lalu cha. tapi kalau kamu belum sia cerita sekarang nggak masalah kok cha” balas Adit mendahului sepedanya masuk ke gerbang sekolah. Rasanya hatiku begitu lemah semenjak kejadian tadi malam. Aku maih teringat ketika ia menarik kasar lenganku, melarangku mencampuri urusannya dan membentakku seolah aku ini bonekanya. hanya karena aku sayang dan takut kehilangannya aku rela menurutinya.

Malam ini Adit mengajakku keluar sekadar mencari udara segar, sebelumnya ia meminta izin kepada Ayah dan Bunda. itulah kebiasaan Adit yang membuatku selalu berani pergi bersamanya. Adit memboncengku dengan sepedanya, sambil mengayuh sepeda ia bersenandung menyanyikan sebuah lagu “cha kita berhenti di warung itu yuk, laper nih” ajak adit menunjuk sebuah warung bakso yang kira-kira berada 4 meter dari kami. Adit menepikan sepedanya lalu menggenggam lembut tangan kiriku memasuki warung bakso. Aku duduk berhadapan dengan Adit “pesan apa cha” tanyanya “aku mie ayam aja deh” jawabku. Adit memainkan sulap dengan  sebuah koin ditangannya, aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Adit bermain sulap, bukan sulapnya yang mebuatku tertawa tapi wajah lucunya yang konyol. Adit tersenyum melitku tertawa. Tiba-tiba Adit menghentikan sulapnya, wajahnya berubah tegang “ada apa dit kok berhenti” tanyaku. “itu Ray kan cha?” tanya Adit memandang seorang laki-laki yang menggamit lengan seorang perempuan berkulit putih yang sepertinya keturunan indo. Aku memalingkan wajah melihat mereka, seketika pelipis mataku memanas butiran bening  jatuh begitu saja melewati pipiku, dengan cepat kedua ibu jariku menghapus butiran bening itu.

Bersambung**

0

MENCINTAIMU DAN MERINDUKANMU

Aku mencintaimu ketika kau pertama kali menghubungiku..
Aku mencintaimu ketika kau masuk mengisi,sedikit celah dalam hatiku,
Dan aku mencintaimu ketika kau merebutku darinya..
Dan aku mencintaimu ketika kau memilikiku..
Aku masih mencintaimu,ketika silet kau torehkan dihatiku,
Aku masih mencintaimu,ketika matahari
tak lagi menyambut kehadiranmu..
Dan aku masih mencintaimu ketika kau bersamanya..
Aku merindukanmu,meski mulutku berkata “bukan kau”
Aku merindukanmu karena masalau membawa hatiku..
Dan aku masih tetap merindukan ketika kau menghilang di telan waktu..
Dan akhirnya aku tetap mencintaimu..